My Writings. My Thoughts.

25 Kata Inspiratif CEO Exchange Episode #506

// April 16th, 2015 // Comments Off on 25 Kata Inspiratif CEO Exchange Episode #506 // TUGAS TUGAS KULIAH

We don’t put American flag on our product. We’ve really positioned our brand as a global brand but they are relevant to the local consumer.

Quote : “Wlliam Lauder CEO of Estee Lauder on CEO Exchange #506”william_lauder

Kesan Pertama Kuliah Manajemen Pemasaran

// March 19th, 2015 // Comments Off on Kesan Pertama Kuliah Manajemen Pemasaran // TUGAS TUGAS KULIAH

Kesan Pertama Kuliah Manajemen Pemasaran dengan Prof. Ujang

 Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc Prof. Dr. Ir, Ujang Sumarwan M.Sc

 

Membaca gelarnya saja sudah bertanya-tanya….kira-kira seperti apa ya orangnya?Apakah seperti pak Kirbrandoko yang mampu membuat suasana perkuliahan jadi segar dengan joke-joke nya yang segar?

Setelah mengikuti perkuliahan perdana, ternyata Prof. Ujang ini merupakan tipikal Dosen yang eksis di media sosial dan mengajak para mahasiswanya untuk eksis juga dimedia sosial. Akhirnya saya memahami bahwa eksis di media sosial adalah bagian dari stategi marketing. Jadi kesimpulannya, narsis menjadi hal yang wajib bagi para marketers hehehe.

Mata kuliah ini membangkitkan jiwa wirausaha dalam diri saya. Saya mulai menggali kembali potensi wirausaha yang saya miliki. Saya mempunyai hobi beternak ikan hias, apabila sebelumnya ikan-ikan tersebut saya bagikan begitu saja ke sesama penghobi ikan hias, mulai saat itu saya bertekad untuk mengembangkan hobi tersebut menjadi lading bisnis saya.

Semakin mendengarkan penjelasan kuliah perdana pada malam itu, membuat saya semakin sadar bahwa banyak hal yang masih harus saya pelajari tentang pemasaran, terutama yang paling saya suka materi tentang strategi pemasaran dan promosi. Kesimpulannya, “berjualan itu membutuhkan strategi!!!”

Terimakasih buat pak Kir dan pak Ujang yang membuat saya jadi bersemangat  dan ingin rasanya untuk melepas status karyawan menjadi bos di perusahaan sendiri. doakan ya pak 🙂

 

Tugas Individu Manajemen Pemasaran – Strategic Planning, Prof Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc.

// March 26th, 2014 // Comments Off on Tugas Individu Manajemen Pemasaran – Strategic Planning, Prof Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc. // Uncategorized

Yogi Syamriadi P056132972.49E

Graduate Program of Management and Business – Bogor Agricultural University

 

 

Tim Pengajar:

Prof Dr. Ir. UjangSumarwan, MSc

www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

sumarwan@mb.ipb.ac.id

Dr. Mukhamad Najib, MM

Dr. Ir. Kirbrandoko, MSM

 

 

Manajemen Pemasaran, merupakan mata kuliah Pada Triwulan 2 program MB IPB pada angkatan E49. Dosen pengajar mata kuliah ini adalah Prof Dr Ir Ujang Sumarwan MSc., Dr Ir Kirbrandoko, MSM. dan Dr. Mukhamad Najib, MM.

Dengan metode pengajaran di kelas yang interaktif dituntut mahasiswa untuk berinteraksi terhadap materi yang diberikan, beberapa sesi lainnya membuat mahasiswa untuk menampilkan pendapat pribadi maupun kelompok mengenai jurnal-jurnal internasional terkait manajemen pemasaran, mendiskusikan perkembangan persaingan industri coklat dari semua aspek marketing dan membuat analisa di industri berbasis agribisnis per masing-masing kelompok serta sebagai tugas akhir, Mahasiswa diminta  merancang bisnis baru dengan membuat business plan secara komprehensif dari konsep produk, strategi marketing, kemasan, iklan serta analisa biaya dan pendapatan.

Suasana kelas dan diskusi antar kelompok dalam pembahasan tugas

 

Beberapa hal yang disampaikan telah disampaikan dalam materi kelas adalah sebagai berikut:

Perencanaan Strategis

Adalah bagian pertama yang dilakukan dalam rekayasa informasi (information engineering), kemudian bagian  berikutnya adalah analisis area bisnis (business area analysis), perancangan sistem (system design), dan konstruksi (construction). Perencanaan Strategis (Strategic Planning) adalah alat manajemen yang digunakan untuk mengelola kondisi saat ini untuk melakukan proyeksi kondisi pada masa depan, sehingga rencana strategis adalah sebuah petunjuk yang dapat digunakan, yang bertujuan menghasilkan profit / keuntungan dan going concern.

Suatu pengambilan keputusan strategis (strategis decisions) membutuhkan komitmen atas sumber daya secara jangka panjang.

Rencana Pemasaran

  • Sebagai dasar bagi manajemen dalam melakukan perbandingan kinerja yang diharapkan dengan realisasi
  • Menjelaskan semua kegiatan yang membantu para user dalam memahami dan bekerja sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
  • Mengkaji tentang lingkungan pemasaran (marketing environment) serta cara kerja karyawan perusahaan
  • Setelah rencana pemasaran dibuat, dijadikan acuan bagi keberhasilan aktivitas perusahaan di masa mendatang
  • Memudahkan manajer pamasaran untuk masuk ke pasar dengan kesadaran akan berbagai kemungkinan

Strategi pemasaran meliputi kegiatan menyeleksi dan penjelasan satu atau beberapa target pasar dan mengembangkan serta memelihara suatu bauran pemasaran yang akan menghasilkan kepuasan bersama sengan pasar yang dituju.

Elemen yang terdapat dalam rencana pemasaran :

  • Penentuan misi dan target perusahaan
  • Melakukan analisis situasi
  • Menggambarkan pasar yang dituju dan menetapkan komponen bauran pemasaran.

Dalam mata kuliah Manajemen Pemasaran, menggunakan acuan teori maupun literature dari buku dibawah ini:

 

 Lecture Notes based on book by Ujang Sumarwan, Agus Djunaidi, Aviliani, H.C Royke Singgih, Jusup Agus Sayino, Rico R. Budidarmo, Sofyan Rambe. 2009.Pemasaran Strategik :Strategis untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham(Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Share Holder Value). Jakarta. Inti Prima.

 

Sumarwan, U., Achmad Fachrodji., Adman Nursal., Arissetyanto Nugroho., Erry Ricardo Nurzal., Ign Anung Setiadi., Suharyono., Zeffry Alamsyah. Cetakan ke 2.2011. Pemasaran Strategik : Persfektif Value-Based Marketing dan Pengukuran Kinerja Strategic Marketing: Value Based and Performance Measurement Perspectives). Bogor, IPB Press.

Chocolate War (Hershey’s VS Mars) – Class Notes from Marketing Management Class on Saturday March 8th, 2014

// March 18th, 2014 // Comments Off on Chocolate War (Hershey’s VS Mars) – Class Notes from Marketing Management Class on Saturday March 8th, 2014 // Uncategorized

KELOMPOK  5

  1. A.M. Heri Saktiyanto [P056132632.49E]
  2. Febrianto Arif Wibowo [P056132742.49E]
  3. Fitriana Purnamasari [P056132762.49E]
  4. Harya Buntala Koostanto [P056132772.49E]
  5. Husnul Insan [P056132782.49E]
  6. Safitri Larasati [P056132922.49E]
  7. Yogi Syamriadi [P056132972.49E]

Class of  E49  2013 Graduate Student of Master Program in Management
Graduate Program of Management and Business
Bogor Agricultural University

Marketing Management Class PMB 541

Lecturer Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc.
Dr. Ir. Kirbrandoko, MSM.
www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id 
sumarwan@mb.ipb.ac.id

 

Kegiatan Promosi Sebagai Senjata Peningkatan Penjualan

Seperti kita ketahui bersama, bahwa kegiatan promosi merupakan salah satu kegiatan dalam kegiatan pemasaran yang mampu mendongkrak penjualan produk secara signifikan. Kegiatan promosi harus dilakukan secara terencana agar biaya kegiatan tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien serta mampu menjangkau target market yang telah ditentukan. Karakteristik kegiatan promosi yang cenderung berbiaya besar mengaharuskan si pelaku kegiatan promosi tersebut bekerja ekstra keras untuk dapat menumpahkan ide-ide kreatif dan memikirkan jalur promosi yang tepat agar biaya yang dikeluarkan tidak terbuang dengan percuma.

Salah satu pabrik produksi coklat Mars (kiri) & Hershey’s (kanan)

Dalam video war of chocolate yang digambarkan bahwa persaingan yang terjadi adalah persaingan untuk memperebutkan pasar yang sangat besar, banyak sekali kegiatan promosi yang dijalankan oleh perusahaan –perusahaan pesaing yaitu Hershey dan Mars. Mereka berpikir sesuatu yang tidak biasa untuk merebut hati konsumen. Katakanlah saja Mars, mereka tidak hanya beriklan di televisi yang tetapi mereka memikirkan yang jauh lebih dari itu. Ide kreatif untuk melahirkan karakter dari karikatur permen Mars yang dapat bersandiwara dan melakukan apapun menjadi ide unik yang tidak terbantahkan. Ada banyak hal yang dapat dipelajari disana, bagaimana Mars menciptakan karakter coklat yang ceria yang dapat membuat suasana menjadi riang dan penuh dengan kebahagiaan. Positioning ceria yang dilakukan dinilai cukup berhasil karena orang-orang yang membeli permen Mars bermaksud membuat suasana yang lebih fun dan fearless.

Blocking time di televisi yang dilakukan untuk placement film karikatur Mars saat jam prime time juga tepat sehingga dapat disaksikan oleh pasar yang sangat besar. Hal ini juga sesuai dengan semangat kegiatan pemasaran yang mengharuskan bahwa aktifitas pemasaran tersebut harus dapat menjangkau pasar yang besar dan tepat sasaran. Banyak target market yang sedang menyaksikan televisi pada saat jam prime time seperti anak-anak, remaja, bahkan dewasa. Bahkan, keberhasilan dari karikatur Mars ini adalah bagaimana tokohnya dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama dan dapat ditemukan sampai sekarang.

Dalam kegiatan promosi pemasaran salah satu hal yang harus diperhatikan adalah inovasi dan penyesuain terhadap kebutuhan konsumen. Produk dalam arti inovasi harus dapat menyesuaikan dengan selera dan kebutuhan pasar. Dalam video war of chocolate, Hershey melakukan hal tersebut dengan baik, dimana saat perhelatan Oscar dimulai, mereka memanfaatkan momentum tersebut untuk mencari celah melakukan kegiatan pemasaran yang efektif. Mereka melakukan komunikasi dengan inovasi design product packaging. Penyesuaian desain packaging product yang bertemakan Oscar mampu mendongkrak penjualan mereka secara keseluruhan.

 

Berbagai jenis produk coklat Mars (kiri) dan Hershey’s (kanan)

Tidak hanya berhenti sampai disitu, persaingan dalam bisnis coklat inipun terus berlanjut, dimana Mars dan Hershey juga tidak henti-hentinya memborbardir iklan di televise dengan tayangan-tayangan iklan produknya untuk memperluas segmentasi pasar dan memperbesar target pasar. Sifat media yang membaurkan pesan secara massal dimanfaatkan betul oleh kedua perusahaan yang memproduksi coklat ini. Mereka seolah tidak mau kehilangan momentum untuk memperebutkan kue yang besar di pasar atas konsumen-konsumen coklat yang ada. Coklat Hershey mengandalkan keunggulan produknya yang tidak meleleh saat ditangan namun meleleh di mulut. Keunggulan inilah yang dijadikan Hershey untuk menjadi strategi kompetitif dalam menghadapi persaingan dengan Mars.

 

Brand mascot dari beberapa produk coklat yang dihasilkan oleh Hershey’s (kiri) dan Mars (kanan)

Kesalahan besar yang dilakukan Mars adalah ketika mereka menolak ajakan kerjasama yang dating dari Universal Studio untuk menggarap film tentang makhluk angkasa yang berteman dengan anak laki-laki, dimana dalam film tersebut terdapat sebuah adegan yang membutuhkan adanya coklat warna-warni milik Mars. Tidak mau menunggu lama, pihak Universal Studio langsung menghubungi dan menawarkan kerjasama terhadap Hershey dengan produknya Reese’s Pieces. Pilihan Hershey dalam bekerjasama dengan Universal Studio dalam pembuatan film ini merupakan langkah yang tepat karena melalui film lah sebuah kegiatan promosi pemasaran yang efektif dapat terlaksana. Film merupakan sebuah media dengan target pasar yang jelas, sehingga dalam penyampaian pesan, komunikasi yang dibangun dapat berjalan dengan efektif, efisien, dan tepat sasaran. Keberhasilan komunikasi ini tentunya akan serta merta dapat meningkatkan penjualan produk secara signifikan.

 

Sumber : Video “War of Chocolate” yang ditayangkan pada perkuliahan Manajemen Pemasaran oleh Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc  tanggal 08 Maret 2014

Written on March 18th, 2014 , Manajemen Pemasaran, Tugas Kelompok Tags: , , , , ,

OSDM-review jurnal

// February 8th, 2014 // Comments Off on OSDM-review jurnal // Uncategorized

Tugas Individu OSDM : Review Jurnal

     Dosen : Dr. Ir. Manuntun Parulian Hutagaol, MS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mereview Jurnal Armanu Thoyib (armanu@fe.unibraw.ac.id)

Hubungan Kepemimpinan, Budaya,

Strategi, dan Kinerja: Pendekatan Konsep

Disusun Oleh  :

Yogi Syamriadi (NIM P056132972.49E)

 

 

 

Daftar Isi

 

 

 

 

1. Latar Belakang……………………………………………………………………………………………….1

2. Pemahaman atas Jurnal……………………………………………………………………………………3

3. Pandangan Terhadap Jurnal……………………………………………………………………………..5

4. Pendapat atau Kritik……………………………………………………………………………………….9

5. Kesimpulan dan Saran…………………………………………………………………………………..11

6. Referensi……………………………………………………………………………………………………..12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Latar Belakang

 

Perubahan lingkungan bisnis demikian kuat pengaruhnya terhadap organisasi, setiap perubahan akan membawa dampak bagi setiap aspek organisasi. Organisasi sumber daya manusia (OSDM) dapat dijadikan suatu kerangka teori yang umumnya digunakan sebagai acuan dalam lingkungan berorganisasi, melihat pada hubungan manusia sebagai sumber daya dan manusia dalam berorganisasi.

Sebagai ilmu, sumber daya manusia dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur sumber daya manusia (SDM) dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek adalah bidang kajian ilmu psikologi. SDM merupakan potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang berada disekitarnya. Dalam pengertian praktis sehari-hari.

Perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi organisasi.  SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dikembangkan dan juga bukan sebaliknya sebagai beban, Laura P. (2005). Sumber daya manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu, perilaku dan sifatnya ditentukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya. Sumber daya manusia merupakan aset dalam segala aspek pengelolaan terutama yang menyangkut eksistensi organiasi.

Perencanaan sumber daya manusia merupakan proses manajemen dalam menentukan pergerakan sumber daya manusia dalam berorganisasi, sedangkan strategi sumber daya manusia adalah seperangkat proses yang dilakukan oleh unit sumber daya manusia untuk menyelesaikan masalah bisnis yang terkait dengan sumber daya manusia itu sendiri.  Dalam perencanaan tersebut perlu diperhatikan perangkat-perangkatnya seperti yang berwujud yaitu sumber daya manusianya sebagai subjek dan sama pentingnya yang tidak berwujud yaitu faktor kepemimpinan seorang pemimpin, budaya yang terbentuk atas perilaku manusianya John ( 2007), serta strategi yang diterapkan dalam menangani permasalahan menggunakan perangkat yang berwujud dan tidak berwujud hingga tercapainya kinerja.

Banyak hal menarik yang dapat dijadikan bahan analisa maupun pembahasan lebih lanjut, baik itu dalam dunia berorganisasi maupun dalam mengelola sumber daya manusia itu sendiri. Kemudian berdasarkan tersebut maka penulis akan menganalisa satu jurnal yang kemudian dilihat dari sudut pandang penulis dan dihadapkan pada teori atau pembanding lain sehingga dapat terdeskripsikan pendapat penulis.

Atas dasar pemaparan latar belakang diatas penulis mencoba mengkategorikan jurnal yang akan dipilih yaitu meliputi hal-hal yang berkaitan dengan organisasi dan cara pengembangannya. Tidak tertutup juga kepada faktor penunjang organisasi tersebut dan faktor yang memang sudah melekat kemudian cara organisasi mempengaruhinya menjadi output yang terukur.

Setelah melakukan pencarian jurnal melalui berbagai media cetak dan elektronik, didapatkan beberapa jurnal ilmiah yang memiliki tema dan memiliki ruang lingkup organisasi sumber daya manusia(OSDM), Jurnal yang diambil adalah yang disusun oleh Armanu Thoyib dengan judul “Hubungan Kepemimpinan, Budaya, Strategi, dan Kinerja: Pendekatan Konsep”.

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Pemahaman Jurnal

 

Penulis mencoba mendeskripsikan maksud dari penyusun jurnal (Armanu Thoyib) yang coba disampaikan melalui jurnalnya. Pada bagian Abstrak Jurnal dideskripsikan tujuan dalam penyusunan jurnal adalah untuk dapat memberikan penjelasan sebuah kerangka konsep dari variabel-variabel terkait perilaku, budaya dan manajemen organisasi.

Jurnal tersebut menerangkan secara runut mulai dari komponen terkecil hingga keterkaitan antara komponennya, alur yang diambil memperjelas tahapan berpikir dari pengertian dan definisi serta contoh yang terdapat pada lingkungan sekitar ditunjang dengan tinjauan pustaka ringkas yang diambil dari berbagai teori dan sumber akademisi.

Jurnal tersebut menyebutkan tahapan sebagaimana dimulai dari individu sebagai sumber daya manusia dan individu-individu yang mulai terkelompok membentuk satu kesatuan dalam berorganisasi.  Organisasi memiliki ruang linkup yang kompleks baik dilihat dari komponen organisasi maupun cara organisasi meraih kinerjanya.

Diambil 2 (dua) pendekatan terkait pertumbuhan organisasi yang pertama adalah menurut Greiner , L (1972)  pertumbuhan organisasi akan dihadapkan pada permasalahan beberapa fase krisis seperti halnya kepemiminan, otonomi, pengendalian, koordinasi dan kolaborasi.  Penyusun Jurnal meyakini bahwa organisasi tidak dapat mati melainkan hanya terkena krisis, seberapa besarnya ukuran krisis tersebut hanya merupakan tantangan dalam membentuk organisasi tersebut menjadi matang atau memiliki kesiapan atas pengulangan krisis, dikarena krisis tersebut bisa datang secara simultan atau berbarengan.

Pendekatan kedua adalah menurut Ichak Adizes (1988), pertumbuhan organisasi akan dihadapkan pada fase courtship (hukum/legalitas), fase infant (kewajban pemilik berinvestasi), fase go-go(berproduksi), fase Adolescence (dewasa/persaingan), fase prime dan fase stable terhadap perubahan-perubahan, pemimpin harus proactive ridak boleh reactive. Sekali pemimpin melakukan reactive terhadap perubahan dan perkembangan sekelilingnya maka ia dikatakan masuk pada awal fase Aristocracy(penurunan). Bila fase ini terus berkelanjutan maka ia masuk pada fase Early Bureaucracy, bila masih terus berkelanjutan maka ia masuk pada fase Bureaucracy, dan akhirnya kematian (Death).

 

Dari Jurnal tentang pertumbuhan organisasi ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Dalam organisasi terdapat pemimpin yang memegang kendali, dan pemimpin yang memberikan arahan / strategi sehingga organisasi tumbuh berkembang.
  2. Setiap organisasi memiliki cara, kebiasaan, dan aturan dalam mencapai tujuan dan misi organisasi, termasuk cara individu hidup berinteraksi satu sama lain dan cara individu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam organisasi. Dengan kata lain bahwa organisasi memiliki budaya sesuai dengan asumsi dasar para pemimpinnya;

 

  1. Perilaku individu yang ada dalam organisasi dalam upaya melaksanakan program kerja yang telah disepakati ataupun diembannya akan memunculkan/menciptakan kinerja mereka;

 

Maka jurnal tersebut merumuskan permasalahan sebagai berikut:

  • Terdapatkah hubungan antara Kepemimpinan dan Budaya Organisasi?
  • Terdapatkah pengaruh Kepemimpinan terhadap Strategi Organisasi?
  • Terdapatkah pengaruh Budaya Organisasi terhadap Strategi Organisasi?
  • Terdapatkah pengaruh Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Strategi Organisasi?
  • Terdapatkah pengaruh Kepemimpinan, Budaya Organisasi, dan Strategi Organisasi terhadap Kinerja Karyawan?

 

Jurnal kembali mendeskripsikan masing-masing komponen berdasarkan teori manajemen, organisasi dan teori akademisi lainnya yang berhubungan, kemudian setelah mendefinisikan dideskripsikan juga hubungan masing-masing komponen satu sama lain dan juga keterkaitannya setiap komponen secara bersamaan, seperti gambar dibawah ini:

 

Gambar 1. Conceptual Framework Hubungan Variabel Kepemimpinan,

Budaya, Strategi, dan Kinerja

Ditarik kesimpulan dari Jurnal ini, dan juga sekaligus menjawab dari rumusan permasalahannya adalah:

(1) Kepemimpinan dan Budaya Organisasi bisa saling pengaruh mempengaruhi;

(2) Kepemimpinan berpengaruh terhadap Strategi Organisasi;

(3) Budaya Organisasi berpengaruh terhadap Strategi Organisasi;

(4) Kepemimpinan dan Budaya Organisasi berpengaruh terhadap Strategi Organisasi;

(5) Kepemimpinan, Budaya Organisasi, dan Strategi Organisasi berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Pandangan Terhadap Jurnal

 

Penulis melihat secara garis besar bahwa jurnal telah disusun untuk menyampaikan pendapat terkait komponen organisasi dan sumber daya manusia menjadi kedalam 4 komponen yaitu :  Kepemimpinan; Budaya; Strategi; dan Kinerja. Yang kemudian komponen tersebut akan dituangkan kedalam konsep berpikir menjadi pendekatan melalui beberapa teori yang disampaikan.

Permasalahan yang diambil dari contoh menghadapi krisis. Menurut Caroline Sapriel yang dikutip Machfud (1998) mengatakan pada dasarnya krisis adalah suatu kejadian, dugaan atau keadaan yang mengancam keutuhan, reputasi, atau keberlangsungan individu atau organisasi. Hal tersebut mengancam rasa aman, kelayakan dan nilai-nilai sosial publik, bersifat merusak baik secara aktual maupun potensial pada organisasi, dimana organisasi itu sendiri tidak dapat segera menyelesaikannya.

Berbagai pengertian di atas menunjukkan, krisis dipandang sebagai suatu situasi atau kejadian yang lebih banyak punya implikasi negatif pada suatu organisasi daripada sebaliknya. Mengenai penyebab timbulnya krisis, Shrivasta dan Mitroff (Ngurah Putra, 1999: 90) membagi krisis kedalam empat kategori berdasarkan penyebab krisis yang dikaitkan dengan tempat krisis. Pertama yang terkategori dalam penyebab teknis dan ekonomis. Kedua yang terkategori sebagai penyebab manusiawi, organisatoris dan sosial. Mereka juga mengkategorikan penyebab krisis dilihat dari sudut tempat asal atau kejadian di dalam atau di luar organisasi. Berdasarkan kategori ini mereka membuat empat sel untuk melihat tipologi krisis, seperti digambarkan pada bagan berikut ini:

 

Gambar 2. Tipologi Krisis

Kemudian jurnal tersebut telah mengembangkan keadaan krisis seperti yang dibahas diatas didalam organisasi dengan hubungan setiap komponen antara Kepemimpinan; Budaya; Strategi dan Kinerja dalam masing-masing hubungan, yang dinilai mempengaruhi satu sama lain. Hubungan tersebut digunakan untuk menguji pada organisai sosial dan organisasi bisni dimana masing – masing organisasi tersebut memiliki tujuan yang diraihnya seperti mensejahterakan anggotanya dan meraih keuntungan.

Seperti juga yang diungkapkan oleh Orpha Jane dalam jurnalnya yang berjudul “Formasi Strategi di Organisasi Profesional”, menekankan pada penerapan strategi didalam organiasi dalam meraih tujuannya sehingga terciptanya kinerja organisasi yang bagus, maka strategi tersebut diterapkan oleh manajemen puncak dan diwujudkan dalam budaya organisasi secara profesional, sehingga arahan manajemen tersebut masuk kedalam strategi organisasinya. Jurnal tersebut secara harfiah mendukung pemahaman didalam jurnal ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Pendapat atau Kritik

 

Dalam jurnal tersebut telah membahas komponen organisasi dan sumber daya manusia melalui hubungan Kepemimpinan; Budaya; Strategi; dan Kinerja disajikan dalam pendekatan konsep. Hubungan komponen tersebut diuji dalam pertumbuhan organisasi dalam menghadapi krisis oleh karena itu penulis berpendapat bahwa komponen tersebut sudah komprehensif disajikan namun perlu ditambahkan komponen komunikasi, karena komponen tersebut merupakan langkah sumber daya manusia maupun individu dalam organisasi tersebut untuk dapat berhubungan sehingga terintegrasi.

Erat hubungan komunikasi dengan budaya organisasi, karena setiap organisasi memiliki ciri khas yang berbeda dalam penyampaian komunikasinya. Komunikasi sangat penting bagi organisasi terutama dalam menghadapi krisis sebagaimana disampaikan oleh

Lena Satlita dalam Strategi Komunikasi dalam Menangani Krisis Organisasi:

 

“Untuk menanggulangi krisis, diperlukan suatu perencanaan khusus yang dapat merespon, menghadapi dan menangani krisis dengan cepat dan tepat, yang di dalamnya memasukkan faktor komunikasi sebagai bagian penting dalam penyelesaian krisis. Melalui strategi komunikasi yang handal, ketidakpastian, konflik kepentingan, keterlibatan emosional, opini publik yang berkembang dapat dinetralisir sehingga tidak sampai menjurus pada ketidakpercayaan publik yang dapat menghancurkan organisasi”

 

Wicaksono (1997) Peristiwa krisis menjadi ukuran kejadian yang melebihi keadaan normal, dalam keadaan ini memang dibutuhkan perhatian khusus, namun dalam memasukkan komponen komunikasi salah satunya adalah karena komunikasi sudah dilakukan sejak awal sumber daya tersebut berinteraksi, bahkan tanpa harus menunggu peristiwa melebihi normal ataupun keadaan lainnya. Pendapat saya dengan kebiasaan dan intensitas komunikasi dapat mengenal karakteristik organisasi tersebut, keadaan sumber daya disana bahkan strategi dan budaya apa yang diterapkannya.

 

 

 

 

 

 

5. Kesimpulan dan Saran

 

Atas pandangan dan pendapat yang telah dikemukakan sebelumnya diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam organisasi terdapat komponen penting seperti Kepemimpinan; Budaya; Strategi; dan Kinerja. Dan apabila disempurnakan menurut penulis perlu ditambahkan komponen tersebut dengan Komunikasi. karena dalam suatu organisasi yang dipimpin oleh pemimpin melakukan komunikasi pendelegasian wewenangnya dan dalam strategi untuk meraih kinerja nya setiap sumber daya manusia baik itu pemimpin melakukan komunikasi dalam implementasi strategi, begitu pun dengan budaya, budaya yang sudah tercipta tak luput dari komunikasi yang terjalin. Satu sama lain setiap komponen saling berhubungan,sehingga apabila digambarkan seperti berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6. Referensi

 

 

Thoyib, Armanu. 2004. Strategi Manajemen Konflik Dalam Organisasi Multibudaya. Jurnal Manajemen & Bisnis (JMB). Vol.1 No.1.

Boatright, John R. 2007. Ethics And The Conduct of Business, Fifth Edition. Pearson Prentince Hall.

Dindin M. Machfudz. 1998. ”Ketika Perusahaan Menghadapi Krisis”. Artikel pada Jurnal ISKI Manajemen Krisis. No.2/Oktober 1998

Hartman, Laura P. 2005. Perspective in Business Ethics, Third Edition. Mc Graw Hill.

Ngurah Putra, I Gusti. Manajemen Hubungan Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya.

Mintzberg, H., Quinn, J.B. 1996. The Strategy Process: Concepts, Contexts and Cases. Prentice Hall, 3rd Ed

Noeradi, Wicaksono. 1997. ”Upaya Memudahkan Komunikasi Saat Terjadi Krisis”, Makalah Seminar Crisis Communication Planning. Yogyakarta. 6 Desember1997

Parrow, Richard W. 1998. ”Cara Berkomunikasi dalam Situasi Krisis”, artikel pada Jurnal ISKI Manajemen Krisis. No. 2/Oktober 1998

Rosady Ruslan. 1999. Praktik dan Solusi Public Relations dalam Situasi Krisis dan Pemulihan Citra. Jakarta: Ghalia Indonesia.

 

Tugas Individu Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Sistem Informasi Outsourcing dan Insourcing Pada Sebuah Perusahaan Perbankan Dosen :Dr.Ir. Arif Imam Suroso, MSc(CS) Disusun Oleh : Yogi Syamriadi (NIM P056132972.49E)

// January 30th, 2014 // Comments Off on Tugas Individu Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Sistem Informasi Outsourcing dan Insourcing Pada Sebuah Perusahaan Perbankan Dosen :Dr.Ir. Arif Imam Suroso, MSc(CS) Disusun Oleh : Yogi Syamriadi (NIM P056132972.49E) // Uncategorized

Tugas Individu Sistem Informasi Manajemen

Pengembangan Sistem Informasi Outsourcing dan Insourcing      Pada Sebuah Perusahaan Perbankan

     Dosen : Dr.Ir. Arif Imam Suroso, MSc(CS)

 

Disusun Oleh  :

yogi.syamriadi.NIM.P056132972.49E.SIM

 

Program Pascasarjana Manajemen Dan Bisnis

Institut Pertanian Bogor

2014

Daftar Isi

 

 

  1. Pendahuluan……………………………………………………………………………………………………..1

I.I.  Latar Belakang…………………………………………………………………………………………….1

I.2  Tujuan…………………………………………………………………………………………………………2

  1. Tinjauan Pustaka……………………………………………………………………………………………….3

II.I.  Definisi Sistem Informasi…………………………………………………………………………….3

II.I.I. Sistem Informasi Keuangan…………………………………………………………………3

II.2.  Definisi Outsourcing………………………………………………………………………………….5

II.3.  Definisi Insourcing…………………………………………………………………………………….5

II.4.  Perbedaan antara Outsourcing dan Insourcing……………………………………………….6

  1. Pembahasan………………………………………………………………………………………………………8

III.1. Alasan Perusahaan Melakukan Outsourcing………………………………………………..8

III.2. Alasan Perusahaan Melakukan Insourcing………………………………………………….9

III.3. Kelebihan dan Kekurangan Outsourcing dan Insourcing…………………………….10

III.4. Alasan Perusahaan Menggunakan Pendekatan Outsourcing dan Insourcing….12

IV. Kesimpulan dan Saran………………………………………………………………………………..15

  1. Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………………16

 


 

 

I. Pendahuluan

 

I.I. Latar Belakang

 

Perkembangan teknologi informasi di Indonesia sangatlah pesat bahkan hampir di setiap daerah telah terkonsentrasi dalam pengembangan teknologi mereka, baik digunakan dalam pertahanan, sosial & bisnis dan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan orang banyak. Saat ini Indonesia telah dijadikan pasar penjualan beberapa produk teknologi terbaru dan pada umumnya konsumen atas produk tersebut lebih condong pada usia remaja dan dewasa, antusias tersebut didukung juga dengan berkembangnya pendidikan formal dan tidak formal yang berjenjang terkait dengan teknnologi dan sistem informasi.

Berkembangnya teknologi maupun sistem informasi tersebut memacu setiap perusahaan memiliki sebuah keunggulan kompetitif dalam industri, oleh karena itu perusahaan wajib untuk berkembang baik itu memanfaatkan teknologi maupun sistem informasi. Pada dasarnya suatu perusahaan memang tak bisa lepas dari teknologi maupun sistem informasi yang digunakan dalam menunjang proses bisnis maupun proses inti bisnisnya. Teknologi informasi saat ini sangatlah berkembang pesat, semakin waktu ditemukan terobosan-terobosan baru yang mempermudah para end user nya untuk mengoperasikan teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka dan inovasi-inovasi atas teknologi tersebut.

            Sementara itu setiap perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan memerlukan perantara yang mengoperasikan sebuah teknologi dan juga fasilitas yang ada guna mencapai visi dan misi perusahaan. Perantara tersebut disebut tenaga kerja atau employee. Kebutuhan akan sumber daya yang berkualitas sangatlah besar demi memajukan sebuah perusahaan dalam memenangkan kompetisi dengan para perusahaan kompetitor. Tenaga kerja saat ini dapat digolongkan atas dua yaitu tenaga kerja outsource dan tenaga kerja insource.

Perusahaan perbankan dalam pengelolaan sumber daya informasi yang disebut juga dengan sistem informasi sumber daya informasi, dimana merupakan bagian daripada sistem informasi yang bertanggung jawab mengidentifikasi kebutuhan informasi, memproses, dan menyediakan informasi dalam format tepat yang akan dipergunakan dalam proses pengambilan keputusan. Proses identifikasi berarti sebuah sistem harus mampu menentukan sebuah masalah yang dihadapi dan mampu mengklasifikasikannya. Kemudian proses pemrosesan sebuah permasalahan diolah menjadi sebuah solusi yang dapat diinterpretasikan kepada end user. Terakhir yaitu proses penyajian informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan terbaik yang harus diambil oleh pengguna sistem guna kepentingan perusahaan.

Oleh karena itu perusahaan perbankan yang dalam kegiatan bisnisnya atau dalam aktivitas transaksinya mengaplikasikan teknolgi dan sistem informasi baik itu dalam sarana insourcing ataupun outsourcing maka penulis mendeskripsikan pengertian dari outsourcing dan insourcing, kelebihan dan kekurangan outsourcing dan insourcing, dan juga alasan mengapa suatu perusahaan menggunakan pendekatanan outsourcing atau insourcing demi pengembangan sistem informasi di perusahaan tersebut.

I.2. TUJUAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan suatu perusahaan perbankan dalam pengambilan keputusan penerapan sistem informasi menggunakan opsi outsourcing atau insourcing, maka dalam menjawab pertanyaan tersebut dideskripsikan dalam narasi sebuah pertanyaa  :

  1. Apakah sistem informasi itu ?
  2. Apakah perbedaan antara outsourcing dan insourcing ?
  3. Apakah kelebihan dan kekurangan dari outsourcing dan insourcing ?
  4. Mengapa sebuah perusahaan perbankan lebih menggunakan pendekatan outsourcing atau insourcing ?

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

II.1. Defenisi Sistem Informasi

Peran sistem informasi menurut O’brian adalah untuk menunjang kegiatan bisnis operasional, menunjang manajemen dalam mengambil keputusan, dan menunjang keunggulan strategi kompetitif organisasi. Sistem informasi mengintegrasikan sumber daya manusia, teknologi (hardware, software dan jaringan komunikasi), sumber data serta kebijakan dan prosedur kerja, untuk mengelola (menyimpan, mengakses kembali, mengubah dan menyebarluaskan) informasi dalam sebuah organisasi. Sistem Informasi pada sebuah organisasi, dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu:

  1. Sistem pendukung operasional, (misalnya untuk mengefisienkan transaksi bisnis, mengendalikan proses industri, mendukung komunikasi dan kolaborasi) dan;
  2. Sistem pendukung manajemen, (misalnya untuk menyediakan laporan dan tampilan, dukungan langsung pada proses pengambilan putusan).

 

II.1.1. Sistem Informasi Keuangan

Sistem informasi keuangan bisa menyediakan informasi untuk berbagai tujuan, yaitu (1) pelaporan  periodik, (2) informasi historik, (3) laporan ke otoritas   moneter   (Bank   Indonesia),   (4)   laporan   konsolidasi,   (5) perencanaan  laba  dan  anggaran,  (6)   pelaporan  kinerja,  menghitung tingkat, hasil, dan berbagai rasio keuangan, (7) akuntansi biaya, dan (8) output untuk sistem lain.  Fasilitas tambahan yang terdapat pada berbagai sistem    informasi    keuangan    meliputi    informasi    saldo    rata-rata, memasukkan transaksi pada hari sebelumnya, pembangkitan transaksi secara  otomatis,    deskripsi  transaksi  otomatis,  perbaikan  pemasukan data, implosion dan eksplosion transaksi, pemasukan data secara on line, pelayanan on   line, pembuatan berbagai bentuk laporan, sistem keamanaan, pembuatan laporan gabungan,  perhitungan pajak, konversi nilai tukar mata uang, dan prosedur tutup tahun. Sedangkan karakteristik tambahannya   adalah   berupa   fleksibitas   sistem   informasi   keuangan tersebut. Karakteristik sistem tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut.

 

 

                Financial Information System

 

    FEATURES

 

 

 

 

Averages balances

Backdated transaction

Automatic transaction generation

Automatic transaction descriptions

Warehousing of entries

Implosions and explosions

On line data entry

 

 

 

On line inquiry

Report writers

Security features

Consolidation routines

Tax calculations

Currency conversion

Year end procedures

Flexibility

 

II.2 Definisi Outsorcing

 

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) dalam bukunya “Introduction to Information Systems”, istilah outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga. Dalam kaitannya dengan Teknologi Informasi(“TI”), outsorcing digunakan untuk menjangkau fungsi TI secara luas dengan mengontrak penyedia layanan eksternal. Atau dapat dikatakan bahwa outsourcing merupakan pemindahan atau pengalihan tanggung jawab kepada pihak ke dua dalam hal ini adalah tenaga kerja.

 

Melalui outsourcing, perusahaan dapat membeli sistem informasi yang sudah tersedia, atau sudah dikembangkan oleh perusahaan outsource. Perusahaan juga dapat meminta perusahaan outsource untuk memodifikasi sistem yang sudah ada. Perusahaan juga dapat membeli software dan meminta perusahaan outsource untuk memodifikasi software tersebut sesuai keinginan perusahaan. Lewat outsourcing perusahaan dapat meminta untuk mengembangkan sistem informasi yang benar-benar baru atau pengembangan dari dasar.

 

II.3 Definisi Insourcing

 

Insourcing adalah mengoptimalkan karyawan dalam perusahaan untuk dipekerjakan guna kepentingan bisnis sebuah perusahaan. Misalnya perusahaan ingin mengembangkan sistem e-commerce nya dengan melimpahkannya kepada staff TI nya, tentunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh karyawan tersebut.

 

Perusahaan yang menggunakan insourcing biasanya memberikan standar tinggi akan tenaga kerja yang akan direkrutnya, atau mungkin lebih memilih untuk merekrut karyawan profesional yang sudah berpengalaman. Tentunya akan lebih sulit mendapatkannya dan apabila sudah menemukan calon karyawan yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan sang calon karyawan akan menginginkan timbal balik yang lebih besar daripada calon karyawan yang fresh graduate.

Pengembangan tersebut dilakukan oleh para spesialis sistem informasi yang berada dalam departemen terkait dengan sistem informasi ataupun teknologi seperti departemen EDP (Electronic Data Processing), IT (Information Technology), atau IS (Information System). Pengembangan sistem umumnya dilakukan dengan menggunakan SDLC (Systems Development Life Cycle) atau daur hidup pengembangan sistem. Dengan menggunakan SDLC ini, organisasi akan mengikuti 6 langkah penting, yang mencakup berbagai tahapan berikut :

1.   Perencanaan, yaitu membentuk rencana pengembangan sistem informasi yang memenuhi rencana-rencana strategis dalam organisasi.

2.   Penentuan lingkup, yaitu menentukan lingkup sistem yang diusulkan untuk dibangun.

3.   Analisis, yaitu menentukan kebutuhan-kebutuhan sistem yang diusulkan.

4.   Desain, yaitu merancang sistem yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperoleh pada tahapan analisis.

5.   Implementasi, yaitu membuat sistem dan menyiapkan infrastruktur untuk sistem.

6.   Pemeliharaan, yaitu mendukung sistem yang telah berjalan.

Pendekatan SDLC biasa disebut sebagai pengembangan tradisional dan mempunyai kelemahan yakni pengembangannya lambat dan mahal. Selain itu, pemakai akhir kurang terlibat sehingga rawan terhadap ketidakcocokan dengan yang diinginkan oleh pemakai.

 

 

II.4 Perbedaan antara Outsourcing dan Insourcing

           

Setelah membaca penjelasan di atas mengenai pengertian dari Outsourcing dan Insourcing  maka dapat diartikan perbedaan antara Outsourcing dan Insourcing adalah, outsourcing merupakan karyawan yang direkrut dari pihak ke dua untuk menempati posisi tertentu dan bekerja sebagai karyawan pihak pertama. Misalkan PT A membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengerjakan pekerjaan spesifik seperti membuat sebuah program untuk sebuah perusahaan, untuk itu PT A meminta untuk PT B menyediakan tenaga kerja sesuai dengan spesifikasi yang diberikan kepada PT A. Apabila PT B menyanggupi permintaan tersebut dan mampu memberikan sejulah tenaga kerja yang diminta dan sesuai dengan spesifikasi yang diminta maka karyawan tersebut akan berpindahtangan kepada PT A dengan durasi kontrak tertentu sesuai dengan perjanjian. Sedangkan yang disebut dengan insourcing adalah perusahaan memaksimalkan sumber daya manusia yang dimilikinya untuk kepentingan bisnis perusahaannya.

 

 

III. PEMBAHASAN

 

III.1 Alasan Perusahaan Melakukan Outsourcing

 

Outsourcing merupakan salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan untuk aplikasi sistem informasi perusahaan. Menurut O’Brien dan Marakas (2006), beberapa pertimbangan perusahaan untuk memilih strategi outsourcing sebagai alternatif dalam mengembangkan sistem informasi diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Biaya R&D sangat tinggi.
  2. Diperlukan waktu yang lama untuk R&D.
  3. Resiko kehilangan biaya investasi.
  4. Tidak ada jaminan untuk dapat mendapatkan sistem yang ingin digunakan dan maksimal bagi perusahaan.
  5. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk training dan transisi dari sistem yang lama ke sistem yang baru dan mensosialisasikannya.

 

Meskipun penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika bisnis. Terlebih lagi kondisi saat ini dimana supply dan demmand akan tenaga kerja tidak seimbang lagi, justru dapat dikatakan sangat timpang. Kondisi saat ini dimana kebutuhan perusahaan akan tenaga kerja tidak sebesar jumlah tenaga kerja yang tersedia, hal ini yang menyebabkan lemahnya posisi dari karyawan dan juga calon karyawan.

Pada saat ini kesadaran perusahaan akan pentingnya perlindungan terhadap keamanan seperti jiwa, harta benda, atau karya cipta sudah semakin tinggi. Tingginya kejahatan yang memanfaatkan TI dan resiko keamanan semakin membuat seseorang memprioritaskan keamanan dalam sebuah perusahaan. Apalagi jurus yang dilakukan ”para penjahat” TI pun kian canggih.

Penjelasan diatas hanya satu dari banyak alasan perkembangan Sistem informasi di seluruh dunia. Seringkali perusahaan enggan untuk melakukan outsourcing, insourcing, atau multi-sourcing teknologi keamanan. Outsourcing harus dipandang secara jangka panjang, karena perusahaan pasti akan mengeluarkan dana lebih sebagai management fee perusahaan outsourcing, memikirkan mengenai pengembangan karir karyawan, efisiensi dalam bidang tenaga kerja, organisasi, benefit dan lainnya.

Adapun beberapa alasan mengapa kita memerlukan outsourcing adalah sebagai berikut:

  • Meningkatkan fokus perusahaan.
    • Memanfaatkan kemampuan kelas dunia.
    • Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari proses re-engineering.
    • Membagi resiko.
    • Sumber daya sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan lain
    • Memungkinkan tersedianya dana kapital
    • Menciptakan dana segar.
    • Mengurangi dan mengendalikan biaya operasi.
    • Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri.
    • Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau diolah.

Dengan melihat alasan menggunakan outsourcing, faktor-faktor pemilihan perusahaan penyedia jasa outsourcing, serta kepuasan perusahaan terhadap tenaga outsource, sebanyak 68.2% menyatakan bahwa penggunaan tenaga outsource dinilai efektif dan akan terus menggunakan outsourcing dalam kegiatan operasionalnya.

 

III.2 Alasan Perusahaan Melakukan Insourcing

 

Organisasi biasanya memilih untuk melakukan insourcing antara lain dalam rangka mengurangi biaya tenaga kerja dan pajak. Organisasi yang tidak puas dengan outsourcing kemudian memilih insourcing sebagai penggantinya. Beberapa organisasi merasa bahwa dengan insourcing mereka dapat memiliki dukungan pelanggan yang lebih baik dan kontrol yang lebih baik atas pekerjaan mereka daripada dengan meng-outsourcing-nya. Insourcing dapat terjadi karena hal-hal sebagai berikut:

 

1. Kompetensi karyawan yang tidak optimal dimanfaatkan di dalam perusahaan.

2. Terjadinya perubahan yang mengakibatkan beberapa kompetensi tertentu tidak dibutuhkan lagi di dalam perusahaan.

3. Sebagai persiapan karyawan untuk menempuh karir baru di luar perusahaan.

 

III.3 Kelebihan dan Kekurangan Outsourcing dan Insourcing

Kelebihan perusahaan apabila menggunakan strategi outsourcing adalah:

+        Perusahaan dapat mengonsentrasikan diri pada bisnis yang ditangani Masalah mengenai hardware, sofware, dan maintenance sistem merupakan tanggung jawab pihak vendor.

+        Skalabilitas & Kemampuan Beradaptasi. Membangun dan memelihara infrastruktur IT membutuhkan banyak waktu. Sektor IT menjadi lebih kompetitif, sehingga mengambil terlalu banyak waktu untuk penerapan satu teknologi akan sangat berisiko. IT outsourcing memungkinkan percepatan adaptasi dan transformasi bisnis Anda terhadap perubahan pasar atau ancaman para pesaing.

+        Dapat digunakan untuk meningkatkan kas dalam aset perusahaan karena tak perlu ada aset untuk teknologi informasi.

+        Mendapatkan kepakaran yang lebih baik dan teknologi yang lebih maju lebih menghemat biaya.

+        Mempersingkat waktu pengembangan.

+        Menghilangkan penyediaan sarana saat beban puncak terjadi (yakni ketika terjadi masa-masa pembeli membanjir) dan cukup melakukan pengeluaran biaya sesuai dengan tambahan layanan yang diberikan oleh pihak luar.

+        Memfasilitasi downsizing, sehingga perusahaan tak perlu memikirkan pengurangan pegawai.

+        Solusi untuk bisnis.

 

Kelemahan dari penggunaan strategi outsourcing oleh suatu perusahaan adalah:

–          Kehilangan kendali terhadap sistem dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data ke pesaing

–          Mengurangi keunggulan kompetitif karena pihak outsourcer tidak dapat diharapkan untuk menyediakannya karena juga harus memikirkan klien lain.

–          Menjadi sangat bergantung pada pihak luar sehingga sangat sulit bagi perusahaan untuk mengambil alih kembali sistem yang sedang berjalan.

–          Wrong man on the wrong place jika proses seleksi, training dan penempatan tidak dilakukan secara cermat oleh perusahaan outsourcing

–          Pengurangan keunggulan kompetitif.

 

Perusahaan yang menggunakan strategi insourcing harus memperhatikan keuntungan dan kelemahan penggunaan strategi tersebut. Keuntungan penggunaan insourcing adalah :

+        Umumnya sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan karena karyawan yang ditugaskan mengerti kebutuhan sistem dalam perusahaan.

+        Biaya pengembangannya relatif lebih rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.

+        Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera direalisasikan dan dapat segera melakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.

+        Sistem informasi yang dibangun sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dan dokumentasi yang disertakan lebih lengkap.

+        Mudah untuk melakukan modifikasi dan pemeliharaan (maintenance) terhadap sistem informasi karena proses pengembangannya dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut.

+        Adanya insentif tambahan bagi karyawan yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan tersebut.

+        Lebih mudah melakukan pengawasan (security access) dan keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan.

+        Sistem informasi yang dikembangkan dapat diintegrasikan lebih mudah dan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.

Adapun kekurangan dari penerapan strategi Insourcing adalah  :

–          Keterbatasan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.

–          Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin sehari-hari sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.

–          Perubahan dalam teknologi informasi terjadi secara cepat dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih (tidak up to date).

–          Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmer sehingga ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan.

–          Adanya demotivasi dari karyawan ditugaskan untuk mengembangkan sistem informasi karena bukan merupakan core competency pekerjaan mereka.

 

III.4 Alasan Perusahaan Menggunakan Pendekatan Outsourcing atau Insourcing

Sistem informasi dan organisasi merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Sistem informasi harus disesuaikan dengan organisasi agar dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan pada suatu bagian tertentu yang penting pada organisasi. Pada saat yang sama, organisasi harus waspada dan terbuka terhadap pengaruh sistem informasi supaya mendapat keuntungan dari teknologi baru.

            Perusahaan besar saat ini yang core business nya sudah skala besar dan keuntungan yang didapat sudah besar maka mereka akan lebih cenderung menggunakan tenaga kerja outsource karena tenaga kerja yang ada sudah terampil dan tidak perlu lagi pelatihan untuk bekerja pada jabatan tertentu, resiko akan kehilangan karyawan tersebut juga relatif kecil karena karyawan memiliki kontrak dengan sang outsource provider. Bagi sang perusahaan beban pajak dan beban lain karena menggunakan jasa pihak ke dua tidaklah terlalu penting, bagi mereka yang terpenting adalah keuntungan yang besar karena kinerja para karyawannya untuk memajukan perusahaan juga mencapai visi dan misi perusahaan.

 

 

Adapun skema pengambilan keputusan berdasarkan identifikasi awal kebutuhan perusahaan.

 Gambar rencana pengambilan keputusan bagi perusahaan

 

Langkah untuk membandingkan kebutuhan perusahaan dan kemampuan perangkat lunak dan penyelesaiannya.

            Keunggulan yang lain yang dapat didapat dari perusahaan pengguna jasa adalah perusahaan dapat mengevaluasi kinerja dari karyawan yang bersangkutan, sehingga perusahaan dapat memberhetikan karyawan apabila kinerjanya menurun atau tidak sesuai dengan ekspektasi. Perusahaan pengguna jasa berhak penuh akan pemberian insentif atau bonus kepada karyawan outsource.

Sedangkan perusahaan yang menggunakan insoucrce nya biasanya adalah perusahaan yang belum terlalu besar, karena mereka lebih mementingkan cost yang keluar apakah sebanding dengan apa yang akan didapatkannya untuk dalam jangka waktu dekat. Terkecuali karyawan yang ditugaskan sudah memiliki background pengalaman yang mumpuni untuk melakukan pekerjaan tersebut, tentunya tidak murah untuk menggaji karyawan profesional.

Perusahaan memiliki wewenang penuh untuk menggunakan tenaga kerja yang diinginkan baik insource ataupun outsource. Setiap kebijakan yang diambil memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hanya tergantung dari sisi mana melihatnya, ingin melihat perubahan dalam jangka panjang atau pendek, dilihat dari sisi efektif atau tidak, efisien atau tidak, cost yang dikeluarkan besar atau tidak. Hal tersebut dapat dilihat dari kepentingan perusahaan tersebut.

Untuk dapat lebih efektif maka disarankan adanya:

  • Komunikasi dua arah antara perusahaan dengan provider jasa outsource dengan bekerja sama, perubahan, atau permasalahan yang terjadi
  • Tenaga outsource telah ditraining terlebih dahulu agar memiliki kemampuan/ketrampilan
  • Memperhatikan hak dan kewajiban baik pengguna outsource maupun tenaga kerja yang ditulis secara detail dan menginformasikan apa yang menjadi hak-haknya

Berikut lamgkah-langkah dalam menerapkan outsourcing dideskripsikan dalam gmbar dibawah ini:

 

 

Gambar Langkah-langkah dalam outsourcing

 

Alasan suatu perusahaan mengambil langkah outsourcing adalah dikarenakan agar perusahaan tersebut dapat bertahan dalam memasuki pasar international dan mendapatkan keuntungan. Pengambilan langkah dengan menggunakan outsourcing merupakan kebijakan dari perusahaan, sehingga perusahaan dihadapkan pada beberapa keuntungan dan tantangan kedepannya.

 

  1. IV.    Kesimpulan dan Saran

 

Sebelum melakukan pengembagan sistem informasi, manajemen harus bisa menganalisa sejak dini kebaikan dan keburukan proses sourcing yang dilakukannya, apakah telah sesuai dengan strategi dan misi perusahaan dan bagaimana dampaknya pada kinerja organisasi saat ini maupun dimasa yang akan datang. Setelah menentukan strategi sourcing yang akan digunakan, perusahaan harus melakukan penyesuaian agar model sourcing yang dipilih tidak berbenturan dan sesuai dengan kondisi lingkungan bisnis, baik internal maupun eksternal.

Berdasarkan kelebihan dan kekurangan melakukan pengembangan sistem informasi menggunakan outsourcing dan insourcing pada pembahasan maka perusahaan sebaiknya memilih untuk melakukan outsourcing jika:

  • Perusahaan memiliki TI support yang terbatas dan kebutuhan tersebut yang mendesak.
  • Ketika perusahaan menginginkan perubahan model bisnis menjadi service oriented, yang sangat sulit untuk diimplementasikan sendiri.
  • Ketika perusahaan memiliki kebutuhan teknologi dan sistem informasi yang sering berubah.
  • Ketika perusahaan ingin berfokus ke operasional bisnis organisasinya.

 

Kemudian perusahaan perlu memperhatikan Hal-hal penting dalam Outsourcing

  • Menentukan pengembang yang ditunjuk untuk membangun sistem informasi dengan hati-hati. Pihak luar yang dipilih memiliki pengalaman.
  • Menandatangani kontrak. Kontrak dimaksudkan sebagai pengikat tanggung jawab dan dapat dijadikan sebagai pegangan dalam melanjutkan atau menghentikan proyek jika terjadi masalah selama masa pengembangan.
  • Merencanakan dan memonitor setiap langkah dalam pengembangan agar keberhasilan proyek benar-benar tercapai.
  • Menjaga komunikasi yang efektif antara personil dalam perusahaan dengan pihak pengembang dengan tujuan agar tidak terjadi konflik atau hambatan selama proyek berlangsung
  • Mengendalikan biaya dengan tepat dengan misalnya memperhatikan proporsi pembayaran berdasarkan persentasi tingkat penyelesaian proyek.

Daftar Pustaka

 

Apriani. 2009. Effisiensi Dan Penghematan Biaya Melalui IT Outsourcing. http://www.maestroglobal.info/effisiensi-dan-penghematan-biaya-melalui-it-outsourcing/

Garrison, D.R. , Anderson, T. 2011. “E-learning in the 21st  century a framework for research and practice”, Open Universiteit Netherland

http://blog.i-tech.ac.id/deasy/2009/08/11/kasus-it-outsourcing-pengolahan-data/#comment-81

http://triatmono.wordpress.com/2007/11/28/best-practice-it-outsourcing/

http://rahard.wordpress.com/2007/12/06/mengusung-it-outsourcing/#comment-66200)

http://www.infosum.net/id/programming/it-outsourcing.html

Khoiruddin. 2007. Melihat kelebihan dan kekurangan iklim. http://arwankhoiruddin. blogspot.com/2007/10/melihat-kelebihan-dan-kekurangan-iklim.html

Lubis, M.S. 2004. Penggunaan Outsourcing pada Aktivitas Teknologi Informasi. http://safri-lubis.info/file

O’Brien, J.A. 2005. Introduction to Information System. McGraw-Hill Irwin companies.

Pasaribu. 2010. Outsourcing, Insourcing & Selfsourcing. http://ferry1002.blog. binusian.org/?p=128

Raharjo.2007. Mengusung IT Outsourcing. http://rahard.wordpress.com/2007/12/06/ mengusung-it-outsourcing/#comment-66200

Yassar. 2009. Cara Memilih Vendor Outsourcing. http://indosdm.com/cara-memilih-vendor-outsourcing

 

 

 

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEGAGALAN DAN KESUKSESAN DALAM PEMBANGUNAN DAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI DI SUATU PERUSAHAAN YOGI SYAMRIADI P056132972.49E

// November 22nd, 2013 // Comments Off on SISTEM INFORMASI MANAJEMEN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEGAGALAN DAN KESUKSESAN DALAM PEMBANGUNAN DAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI DI SUATU PERUSAHAAN YOGI SYAMRIADI P056132972.49E // Uncategorized

TUGAS MATA KULIAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

 FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEGAGALAN DAN KESUKSESAN DALAM PEMBANGUNAN DAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI DI SUATU PERUSAHAAN

 DOSEN : Dr. Ir. ARIF IMAM SUROSO, MSc

 

Disusun Oleh : YOGI SYAMRIADI  P056132972.49E

Jakarta, 22 Nopember 2013

 ___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

DAFTAR ISI

 

BAB 1. PENDAHULUAN.. 1

1.1        LATAR BELAKANG.. 1

1.2        PERUMUSAN MASALAH.. 2

1.3        TUJUAN.. 3

BAB 2. TINJAUN PUSTAKA.. 4

2.1        SISTEM INFORMASI MANAJEMENaanaasasa. 4

2.2        KOMPONEN SISTEM INFORMASI MANAJAMEN.. 5

2.3        IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI DALAM BISNIS. 8

BAB 3. PEMBAHASAN.. 11

3.1      KEUNTUNGAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI 11

3.2      KESUKSESAN SISTEM INFORMASI 12

3.3      KEGAGALAN SISTEM INFORMASI 15

3.4      SOLUSI KEGAGALAN SISTEM INFORMASI 17

BAB 4. PENUTUP. 18

4.1        KESIMPULAN.. 18

4.2        SARAN.. 18

DAFTAR PUSTAKA.. 20

 

 

 

 

 

========================================================================================================================================================

 

 

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Menghadapi persaingan industri yang semakin berkembang, menuntut suatu perusahaan untuk memiliki suatu sistem informasi yang mampu untuk menciptakan dan memanipulasi informasi internal dan eksternal secara efektif, sehingga manajemen memiliki pengetahuan untuk mendeteksi secara efektif kapan perubahan kondisi membutuhkan tanggapan strategi. Dalam menghadapi banyaknya tantangan dalam industri, maka perusahaan dapat mengimplementasikan sebuah sistem informasi.

Penggunaan sistem informasi dapat memberikan keunggulan kompetitif bagi sebuah perusahaan di dunia bisnis, serta teknologi informasi yang diimplementasikan dengan tepat dapat menjadi faktor kunci keberhasilan bisnis mereka.  Penerapan sistem informasi dalam dunia bisnis banyak dimanfaatkan untuk mendukung kecepatan dan ketepatan proses bisnis tersebut. Namun dalam penerapan sistem informasi di dalam suatu perusahaan pasti terdapat faktor-faktor yang dapat menghambat atau melancarkan penerapan sistem informasi tersebut. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai faktor-faktor yang dapat memperlancar atau menghambat pengintegrasian sistem informasi ke dalam perusahaan.

Sistem informasi itu sendiri bermanfaat antara lain: untuk pengumpulan data, penyimpanan sampai pengolahan data, kemudian dapat mempermudah pengambilan keputusan, mengidentifikasi masalah, peramalan bisnis dan masih banyak lagi. Sistem informasi Manajemen (“SIM”) adalah serangkaian sub sistem informasi yang terintergrasi dan mampu mentransformasi data, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dari perusahaan. Oleh karena itu SIM semakin dibutuhkan oleh perusahaan, khususnya dalam meningkatkan kelancaran aliran informasi dalam perusahaan, pengendalian kualitas, dan menciptakan aliansi atau kerjasama dengan rekanan lainnya.

Tantangan yang dihadapi oleh perusahaan adalah pelaksanaan yang efektif dari teknlogi informasi, karena memerlukan orang untuk memahami, menyerap, dan beradaptasi dengan persyaratan baru. Banyak yang mengatakan bahwa orang menyukai kemajuan tetapi membenci perubahan. Sistem informasi tidak akan pernah berkembang dengan sendirinya, tetapi perlu di dukung banyak faktor-faktor yang mampu menjadikan efektifitas sistem akan tercapai. Kesuksesan pengembangan sistem informasi sangat tergantung pada kessesuaian harapan antara system analyst, pemakai (user), sponsor dan customer.  Sistem informasi bagi perusahaan yang dirancang untuk mengkoordinasikan semua sumber daya, informasi, dan aktifitas yang diperlukan untuk proses bisnis lengkap adalah ERP (Enterprise Resource Planning) adalah sebuah sistem informasi perusahaan yang dirancang untuk mengkoordinasikan semua sumber daya, informasi, dan aktifitas yang diperlukan untuk proses bisnis lengkap.

Perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan prilaku dan organisasional. Oleh karena itu, dampak utama dari teknologi informasi dimediasi oleh sejumlah faktor, banyak yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang konteks organisasi dan perilaku manusia. Saat ini hampir semua perusahaan melakukan investasi / implementasi teknologi informasi, untuk menunjang bisnis mereka. Tidak sedikit perusahaan yang melakukan implementasi hanya sebatas mengikuti tren tanpa memahami apa tujuan dari implementasi teknologi informasi tersebut sehingga menyebabkan kegagalan dalam implementasinya. Namun tidak sedikit pula perusahaan yang mampu merasakan manfaat melalui penerapan teknologi informasi sebagai penunjang bisnis mereka.

Dengan demikian, makalah ini akan membahas lebih lanjut mengenai “Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kegagalan dan Kesuksesan dalam Pembangunan dan Penerapan Sistem Informasi di Suatu Perusahaan”.

 

1.2  PERUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang diatas, maka dalam makalah kajian kali ini penulis akan mencoba untuk menjawab beberapa permasalahan sebagai berikut :

 

  1. Apa yang dimaksud dengan sistem informasi manajemen dan apa saja komponen komponennya? Kemudian bagaimana keterkaitan antara sistem informasi manajamen dengan proses bisnis suatu perusahaan?
  2. Apakah faktor-faktor partisipasi, komunikasi pemakai, dukungan manajemen puncak, kompleksitas sistem dan struktur organisasi secara signifikan berpengaruh terhadap efektifitas dalam pengembangan sistem informasi perusahaan?
  3. Apa saja solusi yang bisa dijalankan untuk menanggulangi hambatan dalam penerapan sistem informasi di perusahaan?

 

1.3  TUJUAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah selain sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen, juga dilakukan untuk :

  1. Mengkaji keterkaitan antara sistem informasi dengan proses bisnis perusahaan.
  2. Mengindentifikasi berbagai faktor pendukung dalam kesuksesan maupun kegagalan terhadap penerapan dan pengembangan sistem informasi di suatu perusahaan.
  3. Menemukan solusi untuk faktor-faktor penghambat terhadap pembangunan dan penerapan sistem informasi di suatu perusahaan dan memberikan masukan bagi para pengembang sistem informasi.

 

 

 

 

 

BAB 2. TINJAUN PUSTAKA

2.1  SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Sistem Informasi merupakan suatu tatanan yang terorganisasi dalam pengaturan sumber daya yang ada yang meliputi pengumpulan data lalu mengolahnya sehingga bias dengan mudah untuk dikonsumsi dan lebih mudah dalam hal penyebarannya. Lebih jauh yang meliputi sumber daya meliputi: manusia, hardware, software, data dan jaringan yang terdapat di dalamnya (O’Brien, 2005).

 

Sementara itu, Sistem Informasi Manajemen (SIM) memiliki definisi sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk  memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen. sebagai bagian dari pengendalian internal suatu bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia, dokumen, teknologi, dan prosedur oleh akuntansi manajemen untuk memecahkan masalah bisnis seperti biaya produk, layanan, atau suatu strategi bisnis. Sistem informasi manajemen dibedakan dengan sistem informasi biasa karena SIM digunakan untuk menganalisis sistem informasi lain yang diterapkan pada aktivitas operasional organisasi. Secara akademis, istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk pada kelompok metode manajemen informasi yang bertalian dengan otomasi atau dukungan terhadap pengambilan keputusan manusia, misalnya sistem pendukung keputusan, sistem pakar, dan sistem informasi eksekutif.

 

Adapun tujuan umum Sistem Informasi Manajemen, yaitu :

  • Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
  • Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
  • Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
  • Menyediakan informasi yang efektif dan efisien terkait hal-hal yang bisa membantu percepatan tanpa meninggalkan keakuratan, sehingga bisa meningkatkan nilai jual perusahaan dan memenangkan persaingan di pasar.

 

Keempat tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja.

 

Semua sistem Informasi memiliki tiga unsur atau kegiatan utama, yaitu (Ismail, 2004) :

  • Menerima data sebagai masukan (input).
  • Memproses data dengan melakukan perhitungan, penggabungan unsur data, pemutakhiran perkiraan dan lain-lain.
  • Memperoleh informasi sebagai keluaran (output).

 

2.2  KOMPONEN SISTEM INFORMASI MANAJAMEN

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebuah sistem informasi menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen. Menurut O’brien (2007) SIM merupakan kombinasi yang teratur antara people, hardware, software,communication network dan data resources (kelima unsur ini disebut komponen system informasi) yang mengumpulkan, merubah dan menyebarkan informasi dalam organisasi seperti pada gambar berikut :

 

Gambar 2.1. Komponen Sistem Informasi

Prinsip utama perancangan SIM: harus dijalin secara teliti agar mampu melayani tugas utama. Tujuan sistem informasi manajemen adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika

Sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut blok bangunan (building blok), yang terdiri dari komponen input, komponen model, komponen output, komponen teknologi, komponen hardware, komponen software, komponen basis data, komponen kontrol, dan komponen jaringan. Semua komponen tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan untuk mencapai sasaran.

  • Komponen input

Input mewakili data yang masuk kedalam sistem informasi. Input disini termasuk metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumendokumen dasar.

  • Komponen model

Komponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yag sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.

  • Komponen output

Hasil dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua pemakai sistem.

  • Komponen teknologi

Teknologi merupakan “tool box” dalam sistem informasi, Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, neghasilkan dan mengirimkan keluaran, dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.

  • Komponen hardware

Hardware berperan penting sebagai suatu media penyimpanan vital bagi sistem informasi.Yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung database atau lebih mudah dikatakan sebagai sumber data dan informasi untuk memperlancar dan mempermudah kerja dari sistem informasi.

  • Komponen software

Software berfungsi sebagai tempat untuk mengolah, menghitung dan memanipulasi data yang diambil dari hardware untuk menciptakan suatu informasi.

  • Komponen basis data

Basis data (database) merupakan kumpulan data yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain, tersimpan di pernagkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis data perlu diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya. Basis data diakses atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).

  • Komponen kontrol

Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, te,peratur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, ketidak efisienan, sabotase dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa halhal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung cepat diatasi.

  • Komponen Jaringan

Untuk menghubungkan komputer-komputer perangkat keras dalam sebuah kesatuan diperlukan media untuk menghubungi antara hardware dan software sistem informasi yang digunakan di suatu perusahaan. Komponen jaringan terdiri dari hardware dan software jaringan. Hardware komponen jaringan berupa kartu penghubung jaringan (Network Interface Card), media penghubung jaringan, HUB (konsentrator), repeater, bridge, dan router. Komponen software jaringan berupa sistem operasi jaringan, network adapter drive, dan protokol jaringan.

 

2.3  IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI DALAM BISNIS

Sistem informasi adalah suatu sistem yang saling berinteraksi dengan lingkungan dan melalui suatu siklus yang disebut siklus sistem informasi. Siklus tersebut terdiri dari input, process, dan output (“IPO”). Siklus IPO menggambarkan bagaimana system memperoleh input dari luar dan kemudian diproses sehingga menghasilkan suatu output.

 

Output yang dihasilkan akan dikembalikan sebagai information service. Ada tiga bagian

utama dari sistem informasi:

  • Data yang mendukung informasi
  • Prosedur bagaimana mengoperasikan sistem informasi
  • Orang  yang  membuat  produk,  memecahkan  masalah,  membuat keputusan dan

menggunakan sistem informasi

 

Terdapat 3 peran utama sistem informasi dalam bisnis, yaitu :

1. Mendukung proses bisnis dan operasional.

2. Mendukung pengambilan keputusan.

3. Mendukung strategi untuk keunggulan kompetitif.

Kebutuhan informasi di dalam suatu organisasi ditentukan oleh level manajemen dan pihak non-manajemen yang akan menggunakan informasi. Oleh karena itu, sistem informasi yang dibangun atau dipakai dalam sebuah organisasi perlu mengakomodasi kebutuhan pemakai berdasarkan level manajemen. Namun sebelum membicarakan sistem informasi seperti itu, berbagai level manajemen dalam suatu organisasi akan dibahas terlebih dulu.

Mengembangkan solusi sistem informasi yang berhasil baik mengatasi masalah bisnis adalah tantangan utama untuk para manajer dan praktisi bisnis saat ini. Sebagai seorang praktisi bisnis bertanggungjawab untuk mengajukan atau mengembangkan teknologi informasi baru atau meningkatkannya bagi perusahaan. Adapun untuk seorang manajer bertanggungjawab untuk mengelola usaha pengembangan yang dilakukan para spesialis sistem informasi dan para pemakai akhir bisnis. Mengembangkan solusi sistem

Informasi untuk mengatasi masalah bisnis dapat diimplementasikan dan dikelola sebagai beberapa proses bertahap atau beberapa siklus seperti ditunjukkan pada gambar  sebagai berikut (O’Brien, 2005).

Gambar 2.2. Siklus Sistem Informasi

Di dalam organisasi tradisional umumnya terdapat 4 kelompok, yaitu manajemen tingkat atas, manajemen tingkat menengah, manajemen tingkat bawah, dan pegawai non-manajemen.

  1. Manajemen tingkat atas (atau sering disebut manajemen strategis) adalah manajemen pada level paling atas yang menangani keputusan-keputusan strategis. Keputusan strategis adalah keputusan yang sangat kompleks dan jarang sekali menggunakan prosedur yang telah ditentukan.
  2. Manajemen tingkat menengah (atau disebut manajemen taktis) adalah manajemen yang bertanggung jawab terhadap keputusan-keputusan taktis, yaitu keputusan-keputusan yang mengimplementasikan sasaran-sasaran strategis suatu organisasi.
  3. Manajemen tingkat bawah adalah manajemen yang bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan operasional dalam suatu organisasi. Fokus utama kejadian-kejadian sehari-hari, dan melakukan tindakan-tindakan koreksi jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Para pegawai non-manajemen adalah semua pegawai yang tidak termasuk dalam manajemen.

Di dalam organisasi, arus informasi dalam perusahaan mengalir secara vertikal dan horisontal. Arus informasi vertikal dibedakan menjadi arus informasi vertikal ke atas dan vertikal ke bawah. Arus informasi vertikal ke bawah berupa strategi, sasaran, dan pengarahan. Arus informasi vertikal ke atas berupa ringkasan kinerja organisasi.

Teknologi sistem informasi telah menjadi fasilitator utama bagi kegiatan-kegiatan bisnis, memberikan andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar pada struktur,operasi dan manajemen organisasi. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa :

  1. Teknologi informasi menggatikan peran manusia. Dalam hal ini, teknologi informasi melakukan otomasi terhadap suatu tugas atau proses.
  2. Teknologi memperkuat peran manusia, yakni dengan menyajikan suatu tugas atau proses.
  3. Teknologi informasi berperan dalam restrukturisasi terhadap peran manusia.

 

Dalam hal ini teknologi berperan dalam melakukan perubahan-perubahan terhadap  sekumpulan tugas atau proses. Banyak perusahaan yang berani melakukan investasi yang sangat tinggi dibidang teknologi informasi. Alasan yang paling umum adalah adanya kebutuhan untuk mempertahankan dan meningkatkan posisi kompetitif, mengurangi biaya,

meningkatkan fleksibilitas dan tanggapan (R. E. Indrajit, 2000).

 

BAB 3. PEMBAHASAN

Dengan adanya komputer untuk membantu teknologi informasi, berbagai organisasi telah mangalokasikan dana yang cukup besar untuk sistem informasi. Untuk itu diperlukan analisa mengenai faktor-faktor apa saja yang menunjang sistem informasi yang bagus. Meskipun suatu organisasi telah menerapkan sistem informasi untuk menunjang aktivitasnya, penerapan tersebut bisa berhasil ataupun tidak. Seringkali penerapan sistem informasi, terutama yang berbasis IT menjadi gagal. Kegagalan tersebut bisa berarti proyeknya tidak selesai ataupun telah diimplementasikan namun penggunaannya tidak efektif.

 

3.1 KEUNTUNGAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI

a)      Meningkatkan efisiensi operasional

Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya (low-cost leadership). Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki persaingan pasar.

b)     Memperkenalkan inovasi dalam bisnis

Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya.

c)      Membangun sumber-sumber informasi strategis

Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi, menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users.

 

3.2 KESUKSESAN SISTEM INFORMASI

Peluang kegagalan penerapan sistem informasi terutama yang berbasis komputer sangat besar, maka sebaiknya dalam pembuatan sistem informasi harus melalui proses yang tepat. System Development Lyfe Cycle adalah tahapan-tahapan pekerjaan yang dilakukan oleh analis sistem dan programmer dalam membangun sistem informasi. Langkah yang digunakan meliputi :

  1. Melakukan survei dan menilai kelayakan proyek pengembangan sistem informasi
  2. Mempelajari dan menganalisis sistem informasi yang sedang berjalan
  3. Menentukan permintaan pemakai sistem informasi
  4. Memilih solusi atau pemecahan masalah yang paling baik
  5. Menentukan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software)
  6. Merancang sistem informasi baru
  7. Membangun sistem informasi baru
  8. Mengkomunikasikan dan mengimplementasikan sistem informasi baru
  9. Memelihara dan melakukan perbaikan/peningkatan sistem informasi baru bila diperlukan

System Development Lyfe Cycle (“SDLC”) adalah keseluruhan proses dalam membangun sistem melalui beberapa langkah. Ada beberapa model SDLC. Model yang cukup populer dan banyak digunakan adalah waterfall. Beberapa model lain SDLC misalnya fountain, spiral, rapid, prototyping, incremental, build & fix, dan synchronize & stabilize.

Dengan siklus SDLC, proses membangun sistem dibagi menjadi beberapa langkah dan pada sistem yang besar, masing-masing langkah dikerjakan oleh tim yang berbeda. Dalam sebuah siklus SDLC, terdapat enam langkah. Jumlah langkah SDLC pada referensi lain mungkin berbeda, namun secara umum adalah sama. Langkah tersebut adalah.

  1. Analisis sistem, yaitu membuat analisis aliran kerja manajemen yang sedang berjalan
  2. Spesifikasi kebutuhan sistem, yaitu melakukan perincian mengenai apa saja yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem dan membuat perencanaan yang berkaitan dengan proyek system
  3. Perancangan sistem, yaitu membuat desain aliran kerja manajemen dan desain pemrograman yang diperlukan untuk pengembangan sistem informasi
  4. Pengembangan sistem, yaitu tahap pengembangan sistem informasi dengan menulis program yang diperlukan
  5. Pengujian sistem, yaitu melakukan pengujian terhadap sistem yang telah dibuat
  6. Implementasi dan pemeliharaan sistem, yaitu menerapkan dan memelihara sistem yang telah dibuat

Siklus SDLC dijalankan secara berurutan, mulai dari langkah pertama hingga langkah keenam. Setiap langkah yang telah selesai harus dikaji ulang, kadang-kadang bersama expert user, terutama dalam langkah spesifikasi kebutuhan dan perancangan sistem untuk memastikan bahwa langkah telah dikerjakan dengan benar dan sesuai harapan. Jika tidak maka langkah tersebut perlu diulangi lagi atau kembali ke langkah sebelumnya.

Kaji ulang yang dimaksud adalah pengujian yang sifatnya quality control, sedangkan pengujian di langkah kelima bersifat quality assurance. Quality control dilakukan oleh personal internal tim untuk membangun kualitas, sedangkan quality assurance dilakukan oleh orang di luar tim untuk menguji kualitas sistem. Semua langkah dalam siklus harus terdokumentasi. Dokumentasi yang baik akan mempermudah pemeliharaan dan peningkatan fungsi system.

Gambar 3.1. SDLC

Salah satu tantangan yang dihadapi sistem informasi adalah teknologi dan keadaan perusahaan yang terus mengalami perkembangan sehingga menimbulkan masalah-masalah yang lebih kompleks. Oleh karena itu perusahaan perlu mengetahui langkah-langkah yang tepat agar sistem informasi bisa terus diterapkan dengan sukses mengikuti perkembangan perusahaan. Fuadi (1995) menyebutkan empat langkah-langkah yang perlu diketahui perusahaan untuk penyempurnaan suatu sistem informasi.

  1. Langkah pertama adalah analisa sistem. Pada langkah ini dilakukan survei intensif atas sistem yang ada dan kebutuhan pengolahan data informasi di masa depan. Suatu analisa dilakukan atas informasi yang diperoleh dalam survei.  Selanjutnya, analisa tersebut mencoba untuk mengetahui apa masalah-masalah utama yang terdapat dalam sistem yang telah ada. Selanjutnya, dilakukan sintese system, yaitu pengumpulan hasil survei dan analisa untuk merancang rekomendasi bagi revisi sistem yang telah ada atau mengembangkan suatu sistem baru. Analisa tersebut harus mencakup evaluasi mengenai kebutuhan informasi bagi para manajer dan para pemakai sistem lainnya. Dengan begitu, akan diketahui kelemahan-kelemahan yang ada dalam sistem tersebut.

 

  1. Langkah kedua dalam penyempurnaan sistem informasi adalah desain sistem. Desain sistem merupakan proses penyiapan spesifikasi yang terperinci untuk pengembangan suatu sistem baru. Untuk itu, harus dibuat rencana pengembangan yang disiapkan pada langkah analisa sistem. Desain sistem harus dimulai dengan spesifikasi output sistem yang diperlukan yang mencakup isi, format, volume, serta frekuensi laporan dan dokumen. Selanjutnya menentukan isi dan format input sistem dan file. Setelah itu dilakukan desain mengenai langkah-langkah pengolahan, prosedur-prosedur, dan pengendalian. Serta kegiatan untuk menyiapkan suatu sistem implementasi sistem yang baru.

 

  1. Langkah ketiga dalam penyempurnaan sistem informasi adalah implementasi sistem. Pertama-tama dilakukan perencanaan dan penjadwalan aktivitas implementasi agar dapat dikordinasi dengan baik. Selain itu, bila perlu, dilakukan penerimaan pegawai baru dan pelatihan kepada pegawai baru baru serta realokasi pegawai-pegawai yang ada. Setelah itu dilakukan pengujian terhadap prosedur baru dan bila perlu dilakukan modifikasi. Standar dan pengendalian atas sistem yang baru harus diciptakan. Dokumentasi sistem yang lengkap perlu dibuat. Penggunaan sistem baru dan sistem lama dapat dilakukan secara simultan untuk periode yang singkat dan hasilnya kemudian dibandingkan untuk meyakinkan bahwa sistem baru tidak mempunayi kelemahan seperti sistem lama. Tahap akhir dari implementasi adalah mengganti sistem lama dengan sistem baru.

 

  1. Langkah keempat dalam penyempurnaan sistem informasi adalah review sistem. Review tersebut dilakukan tidak lama setelah sistem baru dioperasikan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada dan mengoreksinya. Hal ini dilakukan supaya hal-hal kecil yang mungkin tidak tampak atau tidak jelas saat penggantian sistem dapat diketahui. Review tersebut harus dilakukan secara periodik. Terkadang review akan menunjukkan modifikasi besar atau penggantian yang perlu dilakukan dan prosesnya akan dimulai lagi seperti pada langkah pertama.

 

3.3  KEGAGALAN SISTEM INFORMASI

Tidak perlu diragukan lagi bahwa sebuah perusahaan mengharapkan suatu sistem yang dapat bekerja secara cepat dan akurat sehingga produktivitas kerja di perusahaan lebih meningkat dan perusahaan akan memperoleh keuntungan yang besar dari penerapan sistem informasi tersebut. Hal ini menyebabkan banyak perusahan mengeluarkan dana yang sangat besar untuk investasi dalam pengembangan dan penerapan sistem informasi. Berikut kegagalan penerapan sistem informasi menurut Rosemary Cassafo dalam O’Brien (1999):

 

  1. Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen

Pihak eksekutif perusahaan menyerahkan seluruh penerapan sistem informasi pada bagian TI, dan enggan untuk mempelajari sistem informasi yang baru atau mereka tidak mengerti sama sekali. Hal ini dapat menjadi faktor penghambat atau kegagalan dalam penerapan SI dalam suatu perusahaan yang besar. Hal ini diakibatkan karena rasa kurang memilki terhadap sistem informasi yang diterapkan oleh perusahaan. Hal ini akan menyebabkan banyak satuan kerja dalam perusahaan belum dapat mengoptimalkan fungsi dan potensi SI untuk mempermudah komunikasi antar satuan kerja, transfer informasi, dan data perusahaan, serta sharing pengetahuan dan teknologi yang bertujuan untuk memajukan perusahaan.

  1. Tidak memiliki perencanaan memadai mengenai tahapan dan arahan yang harus dilakukan

Dalam hal ini penerapan sistem informasi dalam perusahan tidak didukung dengan perencanaan yang matang dan tidak dapat menjembatani keinginan dan kepentingan orang-orang dalam perusahaan dengan pihak yang mengerti dan membuat sistem informasi tersebut. Hal ini menyebabkan sistem yang akan dijalankan menjadi tidak terarah sesuai dengan tujuan perusahaan.

  1. Inkompetensi secara teknologi

Kurangnya keterampilan dari tenaga-tenaga yang digunakan oleh perusahaan untuk menjalankan teknologi informasi dan kurangnya inisiatif dan keaktifan sumber  daya manusia (“SDM”) dalam mensosialisasikan keuntungan dan kemudahan dari sistem informasi yang ada akan menyebabkan sistem yang diterapkan tidak akan berjalan seperti yang diinginkan. Hal ini sering terjadi terutama pada perusahaan yang pengetahuan di bidang teknologi informasi -nya masih rendah. Kesalahannya adalah perusahaan sering memaksakan SDM yang ada untuk menjalankan investasi teknologi informasi, padahal SDM tersebut belum mampu.

  1. Strategi dan tujuan tidak jelas ketika akan menerapkan sistem informasi

Kebanyakan pimpinan perusahaan tidak mengetahui apa visi, misi, strategi ataupun rencana bisnis yang berkenaan dengan implementasi sistem informasi pada perusahaannya. Strategi dan tujuan merupakan faktor penting yang menjadi penentu seberapa besar pencapaian yang diinginkan ketika perusahaan akan melakukan sesuatu. Tanpa strategi dan tujuan yang jelas maka apapun yang dilakukan menjadi tidak terarah karena tidak ada batasan dimana sistem yang digunakan dapat dianggap berhasil ataupun tidak.

  1. Tidak jelasnya kebutuhan terhadap sistem

Mengidentifikasi kebutuhan terhadap sistem dalam suatu perusahaan merupakan bagian dari perencanaan sistem informasi yang merupakan komponen penting dalam perencanaan perusahaan. Implementasi sistem tertentu harus dapat membantu perusahaan mencapai tujuannya yaitu memperkuat bisnis, memberikan keunggulan kompetitif, mempermudah pengelolaan sumber daya perusahaan dan penerapan teknologi dalam perusahaan.

 

3.4 SOLUSI KEGAGALAN SISTEM INFORMASI

Telah dipaparkan bahwa resiko kegagalan pembangunan dan penerapan sistem informasi bagi perusahaan berkemungkinan besar terjadi, namun hal tersebut dapat dilakukan pencegahannya. Seperti pada sub-bab kesuksesan system informasi yakni menggunakan metode SDLC. Dengan menggunakan metode tersebut dapat meminimalisisr terjadinya kegagalan tersebut.

Kemudian faktor diluar itu juga dibutuhan kerjasama tim dari sumber daya manusia perusahaan tersebut, Sehingga adanya proses evaluasi dari programmer ataupun user dapat bersinergis. Dapat kita katakana bahwa userlah yang harus merasa dilayani oleh system informasi tersebut namun programmer sebagai maker tak luput dari pengetahuan aktivitas bisnis user.

 

 

 

 

BAB 4. PENUTUP

4.1  KESIMPULAN

Penerapan sistem informasi dalam suatu perusahaan tidak selalu berhasil dengan baik. Supaya dapat berhasil dengan baik maka perusahaan harus melakukan langkah-langkah yang tepat ketika akan mengimplementasikan sistem informasi. Langkah-langkah ini harus dilakukan dalam sebuah cara yang sistematis dan mengikuti kaidah-kaidah yang ada. Walaupun hal ini tidak menjamin kesuksesan pengimplementasian sebuah sistem informasi ke dalam perusahaan, namun pengerjaan yang telah mengikuti kaidah akan mendekatkan kepada hasil yang lebih baik.

Kesimpulan dari uraian hasil dan pembahasan pada makalah ini ialah terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan dan kegagalan penerapan atau implementasi sistem informasi di suatu perusahaan Beberapa faktor tersebut ialah: keterlibatan pengguna, dukungan manajemen eksekutif, kejelasan pernyataan kebutuhan, perencanaan, inkompetisi secara teknologi, dan harapan yang nyata serta faktor-faktor lainnya.

Selain kesuksesan, dalam penerapan sistem informasi juga terdapat kegagalan. Kegagalan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yang penting adalah rasa memiliki perusahaan yang kurang bersama, ketidakmampuan teknisi TI yang dipekerjakan oleh perusahaan, dan ketidakcocokan TI yang dikembangkan oleh teknisi dengan tujuan perusahaan akibat ketidaktahuan manajer perusahaan mengenai TI yang ingin dikembangkan. Maka, untuk memastikan bahwa pengimplementasian TI dan SI dapat berhasil dengan baik dibutuhkan partisipasi oleh pihak perusahaan dan mempekerjakan tenaga TI yang handal, profesional, dan beretika.

4.2  SARAN

Pengembangan atau penerapan sistem informasi pada suatu perusahaan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hal ini dikarenakan, apabila tidak sesuai dengan kebutuhan perusahan akan terjadi ketidakefesienan dan ketidakefektifan informasi, yang akan menyababkan kerugian perusahaan. Agar hal seperti itu terhindar, perusahaan melakukan perencanaan sebaik-baiknya, kemudian menetapkan standar baku atas perencanaan tersebut, perlunya sinergi antara users dan programmer  memungkin meminimalisasi kegagalan system.

Motivasi setiap individu dan pemilihan komponen system yang baik juga menjadi dasar penerapan system, tak luput juga dari proses evaluasi secara terus-menerus untuk menciptakan system informasi yang going concern.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fuadi, A. 1995. Langkah-Langkah Menuju Penyempurnaan Sistem Informasi. Majalah Manajemen. Edisi September-Oktober.

Kroenke, David M. 1994. Management Information System. McGraw Hill

O’Brien, James A. 1999. Management Information Systems: Managing Information Tecnology in The Networked Enterprice, forth Edition, IRWIN, USA.

 O’Brien, James A. 2002. Pengantar Sistem Informasi. Salemba Empat, Jakarta.

O’Brien, JA and George Marakas  2009. Management Information Sistem. Ninth   Edition. McGraw-Hill.Inc. Boston.

O’Brian dan Marakas. 2008. Management Information System. McGraw Hill.

Windarto, A. 2003. Mantra Baru Investasi Teknologi Informasi. Majalah Swa(sembada). Edisi 23 Januari-5 Februari 2003. No. 02/XIX/23.

http://antho-765.mhs.narotama.ac.id/2012/06/13/jawaban-uas-semester-genap-20112012-sistem-informasi-fe-reguler-a/

http://margani.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/12/25/faktor-penyebab kegagalan keberhasilan-sistem-informasi-perusahaan-jawaban-uat-sim-no-2/

http://yuliagroups.wordpress.com/system-development-life-cycle-sdlc/

Ariefiani R.  2010. Faktor penentu kesuksesan dan kegagalan pengembangan sistem informasi di suatu perusahaanhttp://rizma.blogstudent.mb.ipb.ac.id. [25 Desember 2010]

Murdaningsih A. 2009. Analisis Pengaruh Partisipasi pemakai terhadap Kepuasan Pemakai Sistem Informasi dalam Pengembangan Sistem Informasi dengan Dukungan Manajemen Puncak, Komunikasi Pemakai-Pengembang, Kompleksitas Sistem, Kompleksitas Tugas, pengaruh Pemakai sebagai Variabel Pemoderasi[skripsi]. Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Universitas Muhammadiyah. Surakarta.

O’Brien JA, Marakas G. 2005. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc.

O’Brien JA, Marakas G. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc.

Hello world!

// August 2nd, 2013 // 1 Comment » // Uncategorized

Welcome to Blog Mahasiswa. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Blog Mahasiswa

Skip to toolbar